Tampilkan postingan dengan label Islamic Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic Article. Tampilkan semua postingan
“Hal Yang Perlu Diperhatikan oleh Wanita”- Penting Buat Cewek…
Posted by Ae89 on
Sabtu, 08 Mei 2010
“Hal yang dianggap paling sepele, tapi mempengaruhi kecantikan luar dan dalam diri seorang wanita….
Yang kadang kaum wanita dan pria pun menganggapnya terlalu hiperbolis dan fanatik….”
Kebanyakan saudari muslimah secara tidak sadar atau karena belum tahu hukumnya dalam islam, melakukan hal-hal yang tidak sesuai syariat islam. Hal-hal yang dilarang keras bahkan pelakunya diancam siksaan yang pedih. Padahal Allah sudah memberikan tuntunan dan peringatan serta balasan atas perbuatan yang dilakukan.
1. Kewajiban memakai Jilbab
Masih saja ada yang menanyakan(menyangsikan) kewajiban berjilbab. Padahal dasar hukumnya sudah jelas yaitu:
- Surat Al-Ahzab ayat 59 (33:59)Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan hijab keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
- Surat An-Nuur: ayat 31 (24:31)
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasanny, kecuali yang biasa tampak padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putri mereka atau putra-putri suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau buda-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang beriman supaya kamu beruntung ”“(Ini adalah) satu surat yang kami turunkan dan kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya”. (An-Nuur:1)
Ayat pertama Surat An-Nuur yang mendahului ayat-ayat yang lain. Yang berarti hukum-hukum yang berada di surat itu wajib hukumnya.
- Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya:
“Janganlah kaum wanita menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria ajnabi (yang bukan mahram/halal nikah), kecuali yang tidak mungkin disembunyikan.”
- Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang dan kain lainnya. “Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di atas pakaiannya serat bagian bawah pakiannya yang tampak, maka itu bukan dosa baginya, karena tidak mungkin disembunyikan.”
- Al-Qurthubi berkata: Pengecualian itu adalah pada wajah dan telapak tangan. Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah bahwa Asma binti Abu Bakr menemui Rasulullah shalallohu ‘alahi wa sallam sedangkan ia memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata kepadanya :
“Wahai Asma ! Sesungguhnya jika seorang wanita itu telah mencapai masa haid, tidak baik jika ada bagian tubuhnya yang terlihat, kecuali ini.” Kemudian beliau menunjuk wajah dan telapak tangannya. Semoga Allah memberi Taufik dan tidak ada Rabb selain-Nya.” - Juga berdasarkan sabda Nabi shalallohu ‘alahi wa sallam:
“Ada tida golongan yang tidak akan ditanya yaitu, seorang laki-laki yang meninggalkan jamaah kaum muslimin dan mendurhakai imamnya (penguasa) serta meninggal dalam keadaan durhaka, seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri (dari tuannya) lalu ia mati, serta seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya, padahal suaminya telah mencukupi keperluan duniawinya, namun setelah itu ia bertabarruj. Ketiganya itu tidak akan ditanya.” (Ahmad VI/19; Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).
Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki. (Fathul Bayan VII/19).
Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki. (Fathul Bayan VII/19).
2. Menggunjing, Gosip = Ghibah
Maaf saudari muslimah, ini juga sangat2 sering dilakukan tanpa sadar. Begitu saja terjadi dan tiak terasa bahwa itu salah satu dosa, karena begitu biasanya. Definisi ghibah dapat kita lihat dalam hadits Rasulullah berikut ini:“Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Si penanya kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya ?” Rasulullah menjawab, “kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak benar, berarti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada).” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).
Berdasarkan hadits di atas telah jelas bahwa definisi ghibah yaitu menceritakan tentang diri saudara kita sesuatu yang ia benci meskipun hal itu benar. Ini berarti kita menceritakan dan menyebarluaskan keburukan dan aib saudara kita kepada orang lain. Allah sangat membenci perbuatan ini dan mengibaratkan pelaku ghibah seperti seseorang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Allah berfirman:
” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
3. Menjaga Suara
Suara empuk dan tawa canda seorang wanita terlalu sering kita dengarkan di sekitar kita, baik secara langsung atau lewat radio dan televisi. Terlebih lagi bila wanita itu berprofesi sebagai penyiar atau MC karena memang termasuk modal utamanya adalah suara yang indah dan merdu. Begitu mudahnya wanita memperdengarkan suaranya yang bak buluh perindu, tanpa ada rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal Dia telah memperingatkan:“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah bersabda : “Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah)”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan dengan syarat Muslim oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi`i dalam Ash Shahihul Musnad, 2/36).
Sebagai muslimah harus menjaga suara saat berbicara dalam batas kewajaran bukan sengaja dibikin mendesah-desah, mendayu-dayu, merayu, dan semisalnya. Wallahu a’lam
Sebagai muslimah harus menjaga suara saat berbicara dalam batas kewajaran bukan sengaja dibikin mendesah-desah, mendayu-dayu, merayu, dan semisalnya. Wallahu a’lam
4. Mencukur alis mata
Abdullah bin Mas’ud RadhiyAllohu ‘anhu, dia berkata :“Alloh Subhanahu wa Ta’ala melaknat wanita yang mencukur alisnya dan wanita yang minta dicukurkan alisnya, wanita yang minta direnggangkan giginya untuk mempercantik diri, yang mereka semua merubah ciptaan Alloh”.
Mencukur alis atau menipiskannya, baik dilakukan oleh wanita yang belum menikah atau sudah menikah, dengan alasan mempercantik diri untuk suami atau lainnya tetap diharamkan, sekalipun disetujui oleh suaminya. Karena yang demikian termasuk merubah penciptaan Allah yang telah menciptakannya dalam bentuk yang sebaik- baiknya. Dan telah datang ancaman yang keras serta laknat bagi pelakunya. Ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah haram.
5. Memakai Wangi-wangian
Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasannya ia berkata: Rasulullah shalallohu ‘alahi wa sallam bersabda:“Siapapun wanita yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” (Al-Hakim II/396 dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).
Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah bahwasannya Nabi bersabda shalallohu ‘alahi wa sallam:
“Jika salah seorang diantara kalian (kaum wanita) keluar menuju masjid, maka jangan sekali-kali mendekatinya dengan (memakai) wewangian.” (Muslim dan Abu Awanah).
Dari Musa bin Yasar dari Abu Hurairah: Bahwa seorang wanita berpapasan dengannya dan bau wewangian tercium olehnya. Maka Abu Hurairah berkata :
Wahai hamba Allah ! Apakah kamu hendak ke masjid ? Ia menjawab : Ya. Abu Hurairah kemudian berkata : Pulanglah saja, lalu mandilah ! karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda : “Jika seorang wanita keluar menuju masjid sedangkan bau wewangian menghembus maka Allah tidak menerima shalatnya, sehingga ia pulang lagi menuju rumahnya lalu mandi.” (Al-Baihaqi III/133).
Alasan pelarangannya sudah jelas, yaitu bahwa hal itu akan membangkitkan nafsu birahi. Ibnu Daqiq Al-Id berkata :
“Hadits tersebut menunjukkan haramnya memakai wewangian bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, karena hal itu akan dapat membangkitkan nafsu birahi kaum laki-laki” (Al-Munawi : Fidhul Qadhir).
Syaikh Albani mengatakan: Jika hal itu saja diharamkan bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, lalu apa hukumnya bagi yang hendak menuju pasar, atau tempat keramaian lainnya ? Tidak diragukan lagi bahwa hal itu jauh lebih haram dan lebih besar dosanya. Berkata Al-Haitsami dalam AZ-Zawajir II/37
“Bahwa keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai wewangian dan berhias adalah termasuk perbuatan dosa besar meskipun suaminya mengizinkan”.
6. Memakai Pakaian transparan dan membentuk tubuh/ketat
Sebab yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali tidak trasparan. Jika transparan, maka hanya akan mengundang fitnah (godaan) dan berarti menampakkan perhiasan. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda :
“Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk.” (At-Thabrani Al-Mujamusshaghir : 232).
Di dalam hadits lain terdapat tambahan yaitu :
“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian.” (HR.Muslim).
Ibnu Abdil Barr berkata :
“Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dans tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang.” ( Tanwirul Hawalik III/103).
Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawsanya Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju Qibtiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata :
“Jangan kamu pakaikan baju ini untuk istri-istrimu !. Seseorang kemudian bertanya : Wahai Amirul Muminin, Telah saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah depan maupun belakang, namun aku tidak melihatnya sebagai pakaian yang tipis !. Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis,namun ia menggambarkan lekuk tubuh.” (H.R. Al-Baihaqi II/234-235).
Usamah bin Zaid pernah berkata: Rasulullah shalallohu ‘alahi wa sallam pernah memberiku baju Qibtiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku: “Mengapa kamu tidak mengenakan baju Qibtiyah ?” Aku menjawab : Aku pakaikan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda :
“Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Qibtiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya.” (Ad-Dhiya Al-Maqdisi : Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441).
Aisyah pernah berkata:
” Seorang wanita dalam shalat harus mengenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya (Ibnu Sad VIII/71).
Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar : Jika seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh pakainnya :
Baju, khimar dan milhafah (mantel)” (Ibnu Abi Syaibah: Al-Mushannaf II:26/1).
7. Memakai Pakaian menyerupai pakaian Laki-laki
Karena ada beberapa hadits shahih yang melaknat wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria, baik dalam hal pakaian maupun lainnya. Dari Abu Hurairah berkata:
“Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria” (Al-Hakim IV/19 disepakati oleh Adz-Dzahabi).
Dari Abdullah bin Amru yang berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallohu ‘alahi wa sallam bersabda:
“Tidak termasuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita.” (Ahmad II/199-200)
Dari Ibnu Abbas yang berkata: Nabi shalallohu ‘alahi wa sallam melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian. Beliau bersabda :
Dari Ibnu Abbas yang berkata: Nabi shalallohu ‘alahi wa sallam melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian. Beliau bersabda :
“Keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun mengeluarkan si fulan dan Umar juga mengeluarkan si fulan.”
Dalam lafadz lain :
“Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria.” (Al-Bukhari X/273-274).
Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah shalallohu ‘alahi wa sallam bersabda:
Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah shalallohu ‘alahi wa sallam bersabda:
“Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang bertingkah kelaki-lakian dan menyerupakan diri dengan laki-laki dan dayyuts (orang yang tidak memiliki rasa cemburu).” ( Al-Hakim I/72 dan IV/146-147 disepakati Adz-Dzahabi).
Dalam hadits-hadits ini terkandung petunjuk yang jelas mengenai diharamkannya tindakan wanita menyerupai kaum pria, begitu pula sebaiknya. Ini bersifat umum, meliputi masalah pakaian dan lainnya, kecuali hadits yang pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam masalah pakaian saja.
Dalam hadits-hadits ini terkandung petunjuk yang jelas mengenai diharamkannya tindakan wanita menyerupai kaum pria, begitu pula sebaiknya. Ini bersifat umum, meliputi masalah pakaian dan lainnya, kecuali hadits yang pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam masalah pakaian saja.
8. Memakai Pakaian menyerupai pakaian Wanita Kafir
Syariat Islam telah menetapkan bahwa kaum muslimin (laki-laki maupun perempuan) tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) kepada orang-orang kafir, baik dalam ibadah, ikut merayakan hari raya, dan berpakain khas mereka. Dalilnya Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala surat Al-Hadid ayat 16, yang artinya :
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik(Al-Hadid:16).”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-Hadid ayat 16, yang artinya:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-Hadid ayat 16, yang artinya:
“Janganlah mereka seperti…” merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka, di samping merupakan larangan khusus dari tindakan menyerupai mereka dalam hal membatunya hati akibat kemaksiatan (Al-Iqtidha… hal. 43).
Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan ayat ini (IV/310): Karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang orang-orang beriman menyerupai mereka dalam perkara-perkara pokok maupun cabang. Allah berfirman : Artinya:
Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan ayat ini (IV/310): Karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang orang-orang beriman menyerupai mereka dalam perkara-perkara pokok maupun cabang. Allah berfirman : Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad).“Raaina” tetapi katakanlah “Unzhurna” dan dengarlah. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih” (Q.S. Al-baqarah:104).
Lebih lanjut Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya (I/148): Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mnyerupai ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang-orang kafir. Sebab, orang-orang Yahudi suka menggunakan plesetan kata dengan tujuan mengejek.
Lebih lanjut Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya (I/148): Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mnyerupai ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang-orang kafir. Sebab, orang-orang Yahudi suka menggunakan plesetan kata dengan tujuan mengejek.
Jika mereka ingin mengatakan “Dengarlah kami” mereka mengatakan “Raaina” sebagai plesetan kata “ruunah” (artinya ketotolan) sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 46. Allah juga telah memberi tahukan dalam surat Al-Mujadalah ayat 22, bahwa tidak ada seorang mu’min yang mencintai orang-orang kafir. Barangsiapa yang mencintai orang-orang kafir, maka ia bukan orang mu’min, sedangkan tindakan menyerupakan diri secara lahiriah merupakan hal yang dicurigai sebagai wujud kecintaan, oleh karena itu diharamkan.
Sumber :
- mediamuslim.info
- vbaitullah.com
Cerpen Islami
Posted by Ae89 on
InsyaAllah banyak hikmah dan inspirasi yang akan kita dapatkan dari sana. Daripada membaca sesuatu yang tak berguna. Kali ini kita akan refreshing, rileks, sekaligus menambah semangat di hati. Semoga semua yang kita lakukan baik hal sekecil apapun merupakan hal yang berguna dan tidak mubadzir. Amin.
Kisah Umat Yang Diazab Allah
Posted by Ae89 on
1. Kaum Nabi Nuh
Karena ingkar kepada Allah maka mereka ditenggelamkan dalam suatu bencana banjir.
2. Kaum Nabi Huud (kaum ‘Ad)
3. Kaum Nabi Saleh (kaum Samud)
Dibinasakan oleh Allah dengan suara yang mengguntur sehingga mereka mati bergelimpangan di dalam rumahnya.
4. Kaum Nabi Luth
Diazab dengan hujan batu dari tanah yang terbakar.
5. Kaum Nabi Syu’aib (kaum Madyan/ penduduk Aikah).
Sama halnya seperti kaum Samud, Dibinasakan oleh Allah dengan suara yang mengguntur sehingga mereka mati bergelimpangan di dalam rumahnya.
6. Kaum Nabi Musa (Fir’aun dan pengikutnya)
Ditenggelamkan di laut Merah.
Al Hikmah : Kisah Kucing dalam Dunia Islam
Posted by Ae89 on
Al Hikmah : Kisah Kucing dalam Dunia Islam
Mitos disekitar keberadaan Kucing
Banyak mitos yang bertebaran disetiap kehidupan kucing mulai dari memiliki 9 nyawa hingga sebagai jelmaan dewa. Seperti yan terjadi pada masa dinasti Fir’aun 3000 tahun yang lalu, kucing amat dipuja karena dianggap sebagai titisan dewa. Lain di Mesir lain pula di Eropa, di dataran ini kucing dianggap sebagai sihir setan atau pembawa bencana. Tak pelak lagi, pada masa abad kegelapan terjadi pemusnahan besar-besaran terhadap hewan lucu ini, hingga menyebar ke Afrika Utara. Padahal, wabah yang oleh masyarakat saat itu dianggap sebagai kutukan adalah jenis penyakit pes yang diakibatkan oleh meledaknya populasi tikus dan penurunan populasi kucing sebagai predator.
Cerita Nabi Muhammad SAW dan Kucingnya.
Cerita Nabi Muhammad SAW dan Kucingnya.
Didalam perkembangan peradaban islam, kucing hadir sebagai teman sejati dalam setiap nafas dan gerak geliat perkembangan islam.
Diceritakan dalam suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya. Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali.
Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar azan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan.
Kepada para sahabatnya, nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri.
Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhori, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.
Tak hanya nabi, istri nabi sendiri, Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq pun amat menyukai kucing, dan merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing. Seorang sahabat yang juga ahli hadist, Abdurrahman bin Sakhr Al Azdi diberi julukan Abu Hurairah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya.
Penghormatan para tokoh islam terhadap kucing pasca wafatnya Nabi SAW.
Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo, pada masa dinasti mamluk, baybars al zahir, seorang sultan yang juga pahlawan garis depan dalam perang salib sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan didalamnya. Tradisi ini telah menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar negara islam. Hingga saat ini, mulai dari damaskus, istanbul hingga kairo, masih bisa kita jumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat.
Pengaruh Kucing dalam Seni Islam.
Pada abad 13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran cincin para khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan di dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya.
Kucing yang memberi inspirasi bagi para sufi.
Seorang Sufi ternama bernama ibnu bashad yang hidup pada abad ke sepuluh bercerita, suatu saat ia dan sahabat-sahabatnya sedang duduk santai melepas lelah di atas atap masjid kota kairo sambil menikmati makan malam. Ketika seekor kucing melewatinya, Ibnu Bashad memberi sepotong daging kepada kucing itu, namun tak lama kemudian kucing itu balik lagi, setelah memberinya potongan yang ke dua, diam-diam Ibnu Bashad mengikuti kearah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia sampai disebuah atap rumah kumuh, dan didapatinya si kucing tadi sedang menyodorkan sepotong daging yang diberikan Ibnu Bashad kepada kucing lain yang buta kedua matanya. Peristiwa ini sangat menyentuh hatinya hingga ia menjadi seorang sufi sampai ajal menjemputnya pada tahun 1067.
Ada juga cerita tentang seorang sufi di Iraq yang bernama Shibli, ia bermimpi dosa-dosanya diampuni setelah menyelamatkan nyawa seekor anak kucing dari bahaya.
Selain itu, kaum sufi juga percaya, bahwa dengkuran nafas kucing memiliki irama yang sama dengan dzikir kalimah Allah.
Cerita yang dijadikan sebagai sauri tauladan
Salah satu cerita yang cukup mahsyur yaitu tentang seekor kucing peliharaan yang dipercaya oleh seorang pria, untuk menjaga anaknya yang masih bayi dikala ia pergi selama beberapa saat. Bagaikan prajurit yang mengawal tuannya, kucing itu tak hentinya berjaga di sekitar sang bayi. Tak lama kemudian melintaslah ular berbisa yang sangat berbahaya di dekat si bayi mungil tersebut. Kucing itu dengan sigapnya menyerang ular itu hingga mati dengan darah yang berceceran.
Sorenya ketika si pria pulang, ia kaget melihat begitu banyak darah di kasur bayinya. Prasangkanya berbisik, si kucing telah membunuh anak kesayangannya! Tak ayal lagi, ia mengambil pisau dan memenggal leher kucing yang tak berdosa itu.
Tak lama kemudian, ia kaget begitu melihat anaknya terbangun, dengan bangkai ular yang telah tercabik di belakang punggung anaknya. melihat itu, si pria menangis dan menyesali perbuatannya setelah menyadari bahwa ia telah mebunuh kucing peliharaannya yang telah bertaruh nyawa menjaga keselamatan anaknya. Kisah ini menjadi refleksi bagi masyarakat islam di timur tengah untuk tidak berburuk sangka kepada siapapun.
Adakah manfaat kucing bagi dunia ilmu pengetahuan?
Salah satu kitab terkenal yang ditulis oleh cendikia muslim tempo dulu adalah kitab hayat al hayaawan yang telah menjadi inspirasi bagi perkembangan dunia zoologi saat ini. Salah satu isinya mengenai ilmu medis, banyak para dokter muslim tempo dulu yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui dengkuran suaranya yang setara dengan gelombang sebesar 50 hertz. Dengkuran tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang.
Tak hanya ilmu pengetahuan, bangsa barat juga banyak membawa berbagai jenis kucing dari timur tengah, hingga akhirnya kepunahan kucing akibat mitos alat sihir di barat dapat terselamatkan.
Dikutip dari berbagai sumber (ex. Sebaris Kata dari Al Hikmah)
Hanya Sebuah Curahan Hati dari Saudaramu…
Posted by Ae89 on
(Televisi dan Facebook Akhirnya Menjadi Rute Ghibah)
Sebagai generasi Islam yang akan meneruskan risalah Nabi Muhammad SAW, sudah sepantasnya kita menjadi pribadi yang tangguh. Mampu bertahan pada prinsip kebenaran meski arus negatif mengalir begitu deras.
Nah saudaraku, sekarang ini sedang ramai-ramainya Facebook (FB). Dampak FB atau jejaring sosial lain yang harus diwaspadai adalah: mengenal orang melalui dunia maya yang kadang menggunakan identitas palsu, status palsu. Apakah kita akan percaya begitu saja terhadapnya dengan asal mengg-add atau approve? Sekarang banyak pula bermunculan ikhwan/ akhwat narsis yang dengan PDnya memasang foto-foto yang mungkin hasil manipulasi/ modifikasi supaya terlihat tambah rupawan untuk mencari perhatian,dan yang paling krusial lagi FB justru malah menjadi forum ghibah (menggunjing orang lain) secara besar-besaran, menjadikan FB sebagai tempat berkeluh kesah padahal sebenarnya tempat berkeluh kesah kita hakikinya hanyalah Allah, dan masih banyak lagi.
Masih terkait dengan ghibah di FB, maka biasanya kita mudah terpancing dengan status seseorang. Status tersebut secara langsung maupun tidak langsung meng-ghibah orang lain. Terkadang kita ikut terpancing untuk mengomentari meski niatnya hanya iseng-iseng saja. Namun mau tidak mau, meskipun iseng tapi bisa dipastikan komentar kita sudah termasuk dalam forum per-ghibah-an tersebut.
Begitu pula dengan semakin bervariasinya acara televisi, semakin banyak pula acara-acara yang lebih cenderung pada pergosipan. Gosip sama saja dengan ghibah. Tak jauh-jauh, setiap menonton acara gosip di TV, pasti yang dibahas kejelekan-kejelekan orang, mengintip kehidupan rumah tangga yang seharusnya tidak perlu diketahui oleh orang lain. Pasti yang dibahas tentang perceraian antara si fulan dengan fulani, perselingkuhan si A dengan si Z atau macam lainnya.
Dalam satu riwayat dari Abu Hurairah, terdapat percakapan sahabat dengan Rasululloh. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasululloh saw. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. ” Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasululloh.
Pernah dikisahkan bahwa Rasulullah mengibaratkan orang yang ber-ghibah (membicarakan keburukan orang lain) seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri. Memakan daging mentah saja kita tidak mau, apalagi memakan bangkai daging manusia mentah-mentah. Bukan hanya itu, dosanya juga berat. Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Ketika kami bersama Rasululloh saw tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)
Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasululloh pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril, `Siapa mereka?’ Jibril menjawab, `Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!’ (dari Abu Daud berasal dari Anas bin Malik ra).
Padahal dengan adanya teknologi-teknologi tersebut, para generasi muda bisa memanfaatkannya untuk hal yang lebih berguna seperti misalnya sebagai wadah untuk sharing pengetahuan terutama untuk menyampaikan kebaikan (risalah agama). Namun pada dasarnya sifat remaja adalah menyukai hal-hal yang bersifat happy-happy and enjoy.
Memang sudah kita ketahui bersama bahwa hal-hal yang membawa kita pada suatu pahala merupakan hal-hal yang dirasa memberatkan dan hal-hal yang membawa ke jalan dosa adalah hal-hal yang menyenangkan dan mudah untuk dilakukan. Oleh karena itu, sebagai umat yang beriman kita harus selalu selektif dan cenderung pada perbuatan yang membawa kita pada hal yang berguna untuk diri sendiri dan maupun sesama.
Oleh karena itu, mari stop pemanfaatan teknologi untuk hal-hal yang negatif. Stop ghibah!. Jauhi topik-topik yang “berbahaya” bagi ummat.
Tarbiyah itu Dimulai Dari Hal Kecil
Posted by Ae89 on
Sekedar sharing saja pada pengunjung blog ini….
Kita tidak bisa membiarkan seorang sopir pribadi yang belum tahu arah untuk terus menyetir tanpa arahan rute dari kita, sementara kita tidur enak di jok belakang (padahal kita tahu rutenya). Bisa-bisa malah tersesat di tengah jalan. Kalaupun sopir tersebut akhirnya di tengah jalan bertanya tentang rute pada orang-orang di jalan, yakinkah kita bahwa orang yang ditanyai tersebut pasti menunjukkan jalan yang benar? Atau mungkin orang tersebut malah sengaja membuat kita semakin tersesat. Nah, itu lah tugas orang terdekat untuk memberikan tarbiyah yang kiranya memberikan keleluasaan namun tetap mengarahkan. Analoginya, mungkin saja orang tua membekali anak-anaknya dengan kompas, namun tahukah mereka teknik membaca kompas jika tanpa diajari terlebih dahulu oleh orang tuanya? Perlu diketahui, salah beberapa derajat dalam membaca kompas saja bisa membuat salah arah.
Sama halnya seperti jika orang tua mengetahui ilmu tentang kewajiban berjilbab bagi putrinya yang telah dewasa. Namun, ternyata orang tua tidak menyampaikan, memberikan kebebasan kepada putrinya untuk mencari sendiri titik kesadaran akan wajibnya mengenakan jilbab bagi muslimah. Orang tua hanya menunggu datangnya hidayah bagi putrinya dan tidak memberikan pengertian akan pentingnya menutup aurat. “Padahal sudah jelas, hidayah itu tidak akan datang jika kita hanya berpangku tangan. Pencarian hidayah perlu ada usaha, hidayah itu perlu dijemput”. Oleh karena itu, sudah seharusnya orang tua, murabbi atau para pendidik menuntun, mengarahkan atau bahkan menemani perjalanan panjang mereka untuk mencari kebenaran yang hakiki.
Masa sekarang ini adalah masa-masa yang rawan akan pelanggaran nilai-nilai agama. Pergaulan bebas dipercontohkan dimana-mana, baik di TV, majalah, dan media lainnya. Pria maupun wanita berinteraksi tanpa batas. Sebagai orang tua, seharusnya tarbiyah dimulai dari hal kecil. Misalnya dengan memfilter acara TV yang seharusnya dilihat oleh anak, tidak membiarkan anaknya bepergian di malam hari, tidak memperbolehkan putrinya bepergian bersama teman-teman lelaki, melarang putra-putrinya untuk berpacaran, dsb. Namun tidak melulu tarbiyah itu dominan dengan larangan-larangan, bisa pula dengan mengajak putra-putrinya untuk berdialog hati ke hati, mengajak bersilaturahmi ke rumah sanak saudara, mengajak menghadiri acara-acara kajian agama, mewajibkan membaca Al-Qur’an dan terjemahannya setiap hari, menyampaikan pesan bermakna dalam setiap peristiwa, menganjurkan anak untuk mengenakan pakaian yang sesuai syariat, dsb.
Yang paling penting adalah bagaiamana cara membina keterbukaan dan kedekatan hubungan antara orang tua dengan putra-putrinya. Orang tua sebaiknya membuat suasana kekeluargaan yang kondusif untuk tarbiyah, supaya anak merasa bahwa orang tuanya lah orang yang paling utama sebagai tempat curhat dan berkeluh kesah, dan bahkan supaya anak merasa tidak perlu punya “pacar” karena sudah mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tuanya. Tidak bersikap kasar apabila anak melakukan kesalahan, namun tidak pula membiarkan begitu saja tanpa mengingatkan.
Mohon maaf apabila banyak kesalahan dalam artikel ini, semata hanya sedikit berbagi atas apa yang saya rasakan selama ini, yakni menjadi seorang anak yang beruntung karena mendapatkan cinta dan tarbiyah dari ayah dan bunda….
Analogi Ibadah dalam Implementasi Perangkat Wireless Technology
Posted by Ae89 on
Sekedar berbagi kepada para pembaca…
Kita sebagai Muslim, sudah seharusnya bersyukur atas segala ilmu yang telah diberikanNya. Mohonlah ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita, namun jangan lupa untuk berbagi kepada sesama.
Sebagaimana telah menjadi firman Allah di dalam Al Qur’an:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. yang mengajar (manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. Al Alaq: 1-5).
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Q.S. Az Zumar: 9).
Begitulah, seharusnya manusia berpikir bahwa sebenarnya apa saja yang telah diajarkanNya itu nantinya akan kembali pada logika untuk menemukan hubungan antara ilmu dengan pembuktian akan keberadaan Dzat-Nya. Begitu pula dengan perkembangan teknologi wireless.
Wireless yang selama ini kita ketahui mempunyai konsep definisi sebagai komunikasi yang dilakukan tanpa kabel, melainkan melalui medium udara. Konsep ini memunculkan banyak temuan seperti pembuatan handphone sebagai alternatif pengganti telepon genggam. Juga internet yang menggunakan kabel akhirnya menggunakan fasilitas hotspot atau modem.
Dikaitkan dengan ibadah, salah satu perumpamaan yang bisa kita jadikan sebagai analogi indikator keimanan dan ibadah yakni handphone. Oleh karena itu, sebenarnya komunikasi kita dengan Allah bisa dianalogikan dengan komunikasi wireless menggunakan handphone (Hp). Handphone yang selama ini kita pergunakan menggunakan teknologi komunikasi wireless. Komunikasi dengan Hp bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Begitu pula komunikasi dengan Allah. Komunikasi kita dengan Allah bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Bedanya, berkomunikasi menggunakan Hp memerlukan pulsa dan ada tenggang waktu untuk masa aktif kartu. Sedangkan untuk berkomunikasi dengan Allah itu tiada batasannya. Sungguh Allah Maha Pemurah. Dan jika komunikasi hanya terbatas yang kita dengar, maka tidak begitu komunikasi denganNya. Komunikasi denganNya akan jauh lebih menyeluruh, karena segala hal baik yang terlihat maupun yang disembunyikan oleh kita akan diketahui semuanya oleh Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatunya, baik yang diucapkan dengan berbisik, yang ada di dalam pikiran dan hati sekalipun.
Kemudian, menu-menu untuk meminta layanan di Hp banyak tersedia, misalnya untuk mengecek pulsa, mengisi pulsa, kirim sms, telpon, berbicara dengan operator, dsb. Sedangkan menu Allah jauh sempurna. Manusia bisa memilih menu puasa untuk mendapatkan pahala sunnah, menu sholat tahajjud untuk mendapatkan ketentraman hidup, menu sholat hajat untuk memohon suatu permintaan, dsb.
Lalu ada saatnya baterai untuk Hp tersebut menjadi lemah, istilahnya low battery. Jika sudah begitu, maka orang akan kelabakan bergegas untuk mencari charger dan mengisi ulang baterainya. Jika tidak, maka komunikasi dengan orang lain akan kesusahan karena Hp siap mati ketika asupan energy telah habis. Begitu pula dengan ibadah. Apakah selama ini kita pernah merasa takut kehilangan contact denganNya? Low battery seperti apakah yang berkaitan dengan ibadah? Mungkin saja datangnya ke-futur-an, kesibukan dunia yang tak tertahankan dan menggeser kewajiban-kewajiban manusia kepada Rabb-nya. Maka jika hal tersebut terjadi, maka kita tak boleh tinggal diam. Perlu usaha untuk men-charge kembali asupan keimanan. Tidak menunggu hingga iman kita “mati” seperti layaknya Hp yang tidak ter-charge. Cara men-charge misalnya menghadiri kajian-kajian agama, bersilaturahmi ke rumah orang-orang shalih, bersedekah, memperbanyak bacaan Al Qur’an. Meski tak aada niat dan semangat namun harus dipaksakan. Sama seperti analogi makan, jika sudah waktunya makan maka meski tidak ada nafsu makan namun harus tetap makan, jika tidak takut malah menimbulkan maag.
Dan sama ketika kita butuh untuk berkomunikasi namun terhambat dengan sinyal (wireless) yang putus-nyambung putus-nyambung. Tentu saja saat telepon sering terputus, sms kadang pending atau bahkan tak terkirim. Untuk sebagian orang mungkin diaanggap sebagai hal yang menjengkelkan apalagi jika kepentingannya mempunyai tingkat urgensi tinggi.
Lalu bagaimana jika komunikasi kita dengan Allah terputus-putus, sholat lima waktu masih sering bolong padahal notabene sehari hanya butuh waktu 5 kali sehari seperti resep obat, dan di sela-sela waktu sholat yang kosong kita tidak memperbanyak dzikir? Benar-benar terasa seperti raga tanpa jiwa. Menjalani dan mengejar-ngejar rutinitas duniawi namun kewajiban akhirat terlupakan. Sebenarnya Allah tidak membutuhkan sesuatu dari kita karena kita tak akan pernah memberikan manfaat bagiNya. Maksud yang ada disini adalah bahwa padahal sebenarnya ibadah itu adalah kebutuhan kita, Allah tidak butuh ibadah kita. Oleh karena itu, layaknya seseorang yang menelpon “pacar”nya, maka sudah seharusnya komunikasi dengan Allah lebih diperbanyak. Bagaimana mungkin seorang manusia yang diciptakan dengan cintaNya malah menomorduakan cinta kepadaNya.
Maka, jadilah kita sebagai orang yang berilmu dan mampu menafsirkan hakikat firmanNya. Seharusnya setiap tindakan harus atas dasar ibadah padaNya, seperti menuntut ilmu. Ilmu tak akan pernah datang melainkan ada yang menurunkannya. Oleh karena itu, sudah jelas bahwa Al Quran itu diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi orang-orang yang berpikir.
(Inilah sepotong ilmu yang saya dapatkan ketika melakukan riset tugas akhir. Seorang narasumber yang budiman menyisipkan tausiyahnya dalam penyampaian beliau, dan hal itu menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis artikel ini. Semoga bermanfaat untuk direnungkan oleh kita semua. Amin….).
Kriptografi Dalam Sejarah Islam
Posted by Ae89 on
(Al Kindi, “Bapak Kriptologi”)
Peradaban Islam memang pernah jaya dan akan jaya kembali. Di masa keemasannya, ilmuwan Islam menguasai dunia lewat berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Nyaris tidak ada cabang ilmu yang tidak dikuasai, bahkan hingga ke teknologi militer sekalipun. Namun barangkali tidak ada yang menyangka bahwa Islam sudah memiliki sosok dan kitab pemecah kode sejak berabad-abad lalu.
Adalah Abu Yusuf Yaqub Ibnu Ishaq Ibnu As-Sabbah Ibnu ‘Omran Ibnu Ismail Al- Kindi, atau yang lebih dikenal sebagai Al-Kindi yang melakukannya. Selain dikenal sebagai salah satu filsuf kenamaan Islam, ia juga menulis buku tentang kriptologi atau seni memecahkan kode. Dalam buku yang berjudul Risalah fi Istikhraj al-Mu’amma(Manuscript for the Deciphering Cryptographic Messages) ini, ia menuliskan naskah untuk menguraikan kode-kode rahasia.
Dalam buku ini, Al-Kindi memperkenalkan teknik penguraian kode atau sandi-sandi yang sulit dipecahkan. Ia juga mengklasifikasikan sandi-sandi rahasia itu serta menjelaskan ilmu fonetik Arab dan sintaksisnya. Yang paling penting lagi, dalam bukunya ini ia mengenalkan penggunaan beberapa teknik statistika untuk memecahkan kode-kode rahasia.
Kitabnya mengenai kriptografi sangat mungkin bisa terwujud mengingat dia adalah seorang yang pakar di bidang ilmu hitung/matematika. Di area ilmu ini, ia menulis empat buku mengenai sistem penomoran dan menjadi dasar bagi aritmatika modern.
Berbicara tentang sistem penomoran, tak bisa dipungkiri peran Al Khawarizmi di dalamnya. Namun, Al Kindi juga menaruh kontribusi dalam hal ini. Ia juga berkontribusi besar dalam bidang geometri bola, bidang yang sangat mendukungnya dalam studi astronomi
Pesinggungannya dengan dunia ilmiah di pusat ilmu pengetahuan Islam pada zaman keemasan — Baghdad — dimulai saat ia melamar sebagai penulis kaligrafi di akademi paling populer saat itu, House of Wisdom. Bersama Al Khawarizmi dan Banu Musa bersaudara, ia ditugasi menerjemahkan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab oleh khalifah Al Makmun.
Dia tak banyak terlibat dalam penerjemahan langsung sebetulnya, karena tugas pokok dia adalah mengedit dan mengoreksi. Al Kindi sangat mengagumi pemikiran-pemikiran filsuf Yunani-Romawi. Ia sangat terilhami oleh filsuf besar dua Yunani, Socrates dan Aristoteles. Pengaruh dua tokoh ini bisa dilihat dalam karya-karya Al Kindi di kemudian hari.
Bekerja di bidang sandi-sandi rahasia dan pesan-pesan tersembunyi dalam naskah-naskah asli Yunani dan Romawi mempertajam nalurinya dalam bidang kriptoanalisa. Ia menjabarkannya dalam sebuah makalah, yang setelah dibawa ke Barat beberapa abad sesudahnya diterjemahkan sebagai Manuscript on Deciphering Cryptographic Messages.
Di dalamnya antara lain mengungkapkan: “Satu cara untuk memecahkan kode rahasia, jika kita tahu bahasanya, adalah dengan menemukan satu naskah asli yang berbeda dari bahasa yang sama, lalu kita hitung kejadian-kejadian pada tiap naskah. Pilah menjadi naskah kejadian satu, kejadian dua, dan seterusnya. Kemudian kita lihat teks rahasia yang ingin kita pecahkan, dan mulailah mengklasifikasikan simbol-simbolnya. Kita lalu menemukan simbol yang paling sering muncul, lalu ubahlah dengan catatan kejadian satu, dua dan seterusnya itu, sampai seluruh simbol itu terbaca.”
Teknik Al Kindi ini kemudian dikenal sebagai analisa frekuensi dalam kriptografi, yaitu cara paling sederhana untuk menghitung persentase bahasa khusus dalam naskah asli, persentase huruf dalam kode rahasia, dan menggantikan simbol dengan huruf.
Dalam dunia Islam dan dunia pada umumnya, Al-Kindi dikenal sebagai filsuf Arab kenamaan. Karya-karyanya yang luar biasa menempatkannya pada posisi tertinggi di bidang ilmu pengetahuan. Namun meski dikenal sebagai seorang filsuf kenamaan asal Dinasti Abassiyah, ia juga menguasai berbagai cabang ilmu lainnya seperti kedokteran, matematika, musik, astrologi, dan ilmu optik.
Biodata:
Al-Kindi (801-873)
Lahir: Kufa, Arab.
Pekerjaan awal: penerjemah, penulis kaligrafi
Bidang yang dikuasai : filsafat, kedokteran, musik, astronomi, geografi, matematika, farmakologi, kriptografi.
Karya: 205 buku, antara lain Geometri (32 buku), pengobatan dan filosofi (22 buku), logika (9 buku), fisika (12 buku).
(Sumber: republika.co.id, pks-anz.org)
Kriptografi (Kriptologi) Adalah Subset IlmuNYA
Posted by Ae89 on
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran”. (Q.S Az Zumar: 9).
Begitulah kriptogram dari Allah yang patut kita renungkan. Sebenarnya masih banyak lagi kriptogram-kriptogram yang ia kirimkan kepada kita. Bahwa Allah menurunkan ilmu universal di dalam Al Qur’an, yang kadang beberapa ayat di dalamnya bisa dikatakan ter-encrypt. Ia mengajarkan pada kita untuk berpikir, menafsir segala firman yang ia sampaikan sehingga bisa menjadi suatu ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan kita, inilah fungsi decryption-nya. Ilmu universal yang diajarkanNya bukan hanya masalah akhirat melulu, tapi ilmu yang sekarang ini ada di dunia pula. Namun, seringkali kita memisahkan antara ilmu dunia dengan ilmu Ilahiah.
Pada dasarnya Allah memberikan kita ilmu yang begitu sempurna dalam bentuk Al Qur’an. Al Qur’an mengajarkan segala sesuatu yang jauh di masa lalu orang belum menemukannya namun Al Qur’an bisa memberikan gambaran nyata tentang hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang.
Allah Mengajari Kita Kriptologi
Allah selain mengajarkan ilmu astronomi, astrologi, biologi, kimia, sejarah,dan ilmu-ilmu lainnya Ia tak juga mengajarkan kriptologi kepada kita. Bukankah Al Qur’an itu adalah kumpulan-kumpulan kriptogramnya?!. Banyak makna Al Qur’an yang harus kita tafsirkan dengan benar, karena jika tidak maka akan banyak kesalahpahaman dalam implementasi di kehidupan sehari-hari. Nah, inilah, Allah mengajarkan kita kriptologi jauh sebelum manusia mengetahuinya. Kriptologi yang diajarkanNya ini lengkap dari sisi kriptografi juga kriptanalisisnya.
Dalam konsep kriptografi yang dibuat oleh manusia, ada beberapa unsur yang harus dipenuhi yakni:
- Confidentiality (kerahasiaan)
- Data integrity (integritas data)
- Availability (ketersediaan)
- Non-repudiation (nir-penyangkalan)
- Authentication (otentikasi)
Allah mengajari kita tentang pentingnya confidentiality. Allah mempunyai banyak rahasia yang hanya Ia yang tahu. Sebagai contoh, segala rahasia tentang ajal, jodoh, rizki, atau segala rahasia apapun dari masa depan manusia semuanya sudah tertulis di dalam Kitab Lauhul Mahfudz.
Allah juga mengajari kita tentang data integrity, authentication dan non repudiation. Tiada yang mampu menandingi ciptaan Allah yang satu ini. Fungsi hash yang diciptakan Allah ini sama sekali sempurna. Acak random dan bersifat unik. Fungsi hash yang kita ketahui saat ini adalah suatu fungsi yang memetakan bit string dengan panjang sembarang ke bentuk bit string dengan panjang tertentu (yang fix). Selain itu, fungsi hash juga mampu menghasilkan output yang berbeda dengan inputan yang sama. Manusia terlahir di dunia mempunyai ciri yang berbeda-beda, tanpa collision (meski bayi kembar) !! . Meski pun misalnya ada bayi kembar, namun tetap saja keduanya pasti memiliki suatu perbedaan. Manusia di dunia ini tidak ada yang terlahir sama, meskipun berasal dari bapak dan ibu yang sama. Karena alasan inilah maka dengan kuasaNya, manusia bisa mengembangkan teknologi biometric sebagai salah satu alternatif dalam suatu fungsi kriptografis. Biometric yang diciptakan Allah secara unik untuk setiap masing-masing individu yakni meliputi struktur retina, fingerprint (sidik jari), dsb. Dan biometric ini merupakan salah satu metode otentikasi “what you are” yang paling terpercaya dan tak bisa dipalsukan sehingga dianggap paling aman.
Subhanallah, Maha Suci Allah… []
(Artikel ini muncul setelah mendapatkan tausiyah dari seorang narasumber yang budiman ketika saya riset tugas akhir. Sekedar berbagi inspirasi dan semoga bermanfaat…^-^)
Seperti Apakah Surga Itu?
Posted by Ae89 on
“Hamba-hambaku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini; tidak pula kamu bersedih hati.
Yaitu orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka yang dahulunya berserah diri.
Masuklah kamu dan istri-istri kamu ke dalam surga, dan bergembiralah.
Diedarkan kepada mereka piring-piring dan piala dari emas, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan hati dan sedap dipandang mata. Dan kamu kekal di dalamnya.
Itulah surga yang akan diwariskan kepadamu untuk amal-amal yang dahulu engkau kerjakan”. (Surat Az-Zukhruf: 68-72)
Siapa Saja Yang Masuk Ke dalam Surga?
“…Allah menanamkan kedalam hati mereka keimanan dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari padaNya. Dan Allah masukkan mereka kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadapNya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung”. (Surat Al-Mujadilah: 22)
Sifat-sifat lain dari orang beriman, yang karenanya Allah menjanjikan surga kepada mereka, dinyatakan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
- mereka yang beriman dan melakukan amal saleh (Surat Al-Baqarah: 25),
- mereka yang selalu takut (taqwa) kepada Allah (Surat Ali ‘Imran: 15),
- mereka yang menahan amarahnya (Surat Ali ‘Imran: 134),
- mereka yang tidak meneruskan perbuatan kejinya (Surat Ali ‘Imran: 135),
- mereka yang menta’ati Allah dan RasulNya (Surat an-Nisa: 13),
- mereka yang tetap mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-rasul Allah dan membantunya (Surat Al-Ma‘idah: 12),
- mereka yang sungguh-sungguh dalam berbuat kebenaran (Surat Al-Ma‘idah: 119),
- mereka yang beramal baik (Surat Yunus: 26),
- mereka yang merendahkan dirinya di hadapan Tuhannya (Surat Hud: 23),
- mereka yang bertaubat (Surat Maryam: 60),
- mereka yang memelihara amanat dan janjinya (Surat Al-Muminun: 8),
- mereka yang tetap melaksanakan shalat (Surat Al-Muminun: 9),
- mereka yang berlomba-lomba dalam kebaikan (Surah Fatir: 32),
- mereka yang kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus (Surat Qaf: 32),
- mereka yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah meskipun Dia tidak kelihatan, dan datang dengan hati yang taubat. (Surah Qaf: 33).
Source: Harun Yahya. Cara Cepat Mendapatkan Keimanan.pdf.
Seperti Apakah Neraka Itu?
Posted by Ae89 on
Neraka adalah tempat segala macam penderitaan, siksaan dan hukuman yang kekal bagi orang-orang yang tidak beriman. Mengenai hal ini, Al-Qur’an menerangkan:
Sesungguhnya neraka itu tempat yang selalu menanti – tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan ataupun mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah – sebagai pembalasan yang setimpal. (Surat An-Naba’: 21-26)
Apa yang diceritakan Al Quran tentang Neraka?
Ayat-ayat Al-Qur’an menyebutkan adanya kehidupan di neraka. Namun kehidupan yang dialami adalah segala macam kehinaan, penderitaan dan siksaan lahir dan batin.
Dibandingkan dengan kehidupan di dunia, manusia tak dapat membayangkan bagaimana beratnya siksaan di neraka. Orang-orang yang tidak beriman mengalami siksaan berat dari berbagai segi, baik lahir maupun batin. Lagi pula, siksanya tak pernah berhenti ataupun berkurang:
Dibandingkan dengan kehidupan di dunia, manusia tak dapat membayangkan bagaimana beratnya siksaan di neraka. Orang-orang yang tidak beriman mengalami siksaan berat dari berbagai segi, baik lahir maupun batin. Lagi pula, siksanya tak pernah berhenti ataupun berkurang:
Sekali-kali tidak! Sungguh neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan berpaling, serta mengumpulkan harta dan menyimpannya (dengan kikir). (Surat Al-Ma‘arij: 15-18)
Source: Harun Yahya. Cara Cepat Mendapatkan Keimanan.pdf.
Apakah Sesorang Memiliki Kesempatan untuk Memperbaiki Amal Yang Telah Lalu Setelah Ia Melihat Kebenaran Akhirat?
Posted by Ae89 on
Pada hari itu, tidak ada peluang untuk memperbaiki amal. Meyakini setelah kematian adalah hal yang sia-sia. Al-Qur’an pun menyebutkan bahwa pada hari perhitungan, orang-orang kafir akan memohon agar diberi kesempatan untuk mengerjakan kewajibannya. Namun permintaan mereka tak akan diterima. Mereka berharap dapat kembali ke dunia, tetapi permintannya ditolak. Setelah menyadari tak ada peluang untuk menebus dosa, mereka sangat menyesal. Keputusasaan dan penyesalan yang bercampur merupakan perasaan yang menyiksa tiada bandingannya di dunia ini. Mereka sadar akan mendapat hukuman yang kekal di akhirat, tanpa sedikitpun peluang untuk menghindar:
Dan jika kamu melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata: ‘Kalau saja kami dikembalikan ke dunia, kami tak akan mengingkari ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang beriman.’ Tidak, telah nyata bagi mereka kejahatan yang dahulu selalu mereka sembunyikan. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali kepada perbuatan yang dilarang bagi mereka. Dan sesungguhnya mereka itu pendusta-pendusta belaka. Dan mereka akan berkata, ‘Kehidupan itu hanya di dunia saja dan kita sekali-kali tak akan dibangkitkan kembali.’ Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapakan kepada Tuhan mereka. Allah berfirman, ‘Bukankah kebangkitan ini benar?’ Mereka berkata, ‘Sungguh benar, demi Tuhan kami!’ Allah berfirman, Karena itu rasakanlah azab ini, karena kamu mengingkarinya.’ (Surat Al-An’am: 27-30)
Source: Yahya Harun. Cara Cepat Mendapatkan Keimanan.pdf.
8 Mei 2010
Dan jika kamu melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata: ‘Kalau saja kami dikembalikan ke dunia, kami tak akan mengingkari ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang beriman.’ Tidak, telah nyata bagi mereka kejahatan yang dahulu selalu mereka sembunyikan. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali kepada perbuatan yang dilarang bagi mereka. Dan sesungguhnya mereka itu pendusta-pendusta belaka. Dan mereka akan berkata, ‘Kehidupan itu hanya di dunia saja dan kita sekali-kali tak akan dibangkitkan kembali.’ Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapakan kepada Tuhan mereka. Allah berfirman, ‘Bukankah kebangkitan ini benar?’ Mereka berkata, ‘Sungguh benar, demi Tuhan kami!’ Allah berfirman, Karena itu rasakanlah azab ini, karena kamu mengingkarinya.’ (Surat Al-An’am: 27-30)
Source: Yahya Harun. Cara Cepat Mendapatkan Keimanan.pdf.
Ketika Ibadah Terasa Hambar
Posted by Ae89 on
Minggu, 25 April 2010
Ibadah semacam ini merupakan tanda sakitnya qolbu seseorang, Pertanyaannya sekarang, Bagaimana kalau sudah begini ? apa yang harus kita dilakukan? Apakah kita tinggalkan saja ibadah-ibadah yang terasa hambar, toh hasilnya juga terasa hambar, tidak ada nikmatnya ibadah?
Terasa hambarnya ibadah, itu tanda bahwa qolbunya kita sedang mengalami sakit. Biasa diilustrasikan ketika badan sakit (tidak fit), walaupun diberi makanan yang enak-enak, tetap saja tidak selera makan, tidak dapat merasakan lezatnya makanan tersebut. Terasa tidak lezatnya makanan tersebut bukan karena makanannya yang nggak “enak”, tetapi memang badannya yang sedang nggak beres, nah kalau kondisinya demikian, apakah mending tidak usah makan saja? Kalau tidak makan, justru bisa mengakibatkan sakitnya tambah parah, yang harus dilakukan adalah tetap makan walaupun tidak terasa lezat, dan yang paling utama adalah pergi ke dokter untuk diobati.
Demikian juga qolbu, apabila qolbunya sakit, maka menurut para ulama, didalam qolbu yang sakit, pasti ada penyakitnya, seperti sombong, riya, sum’ah, ujub, iri, dengki..dll.
Bagaimana menyembuhkannya.
Bagaimana menyembuhkannya.
“Setiap segala sesuatu ada alat pembersihnya. Dan alat untuk membersihkan qolbu adalah dzikrulloh”
lantas timbul pertanyaan, Dzikrulloh yang mana yang dapat mengobati qolbu.
“…maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. 16:43).
“…maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. 16:43).
Maka, ketika kita telah bertemu dengan ahli dzikir, qolbu kita akan diobatinya, sehingga setelah diobati qolbu kita akan bersinar kembali, sehingga kenikmatan beribadah insyaAlloh akan dapat kita rasakan.
Wallohu a’lam…
Sumber : ikhwansuryalaya.wordpress.com/
Opini: Perbedaan Pacaran dengan Komitmen Pernikahan
Posted by Ae89 on
Melanjutkan artikel sebelumnya yang berjudul “Ikhwan/ Akhwat Ngerti Syari’at Kok Pacaran”, maka kali ini penulis berusaha untuk lebih menekankan mengenai istilah “Komitmen” yang digunakan oleh saudara/i kita sebagai dalih untuk menghalalkan hubungan antara pria dan wanita nonmuhrim, yang mana istilah “komitmen” ini dianggap lebih legal dibandingkan dengan istilah pacaran. Padahal jika dilihat dari berbagai segi dan sudut pandang, keduanya hampir tidak ada bedanya karena tidak berdasarkan syari’at atau hukum-hukum Islam.
Mari kita bandingkan perbedaan perilaku antara para pelaku pacaran dengan pelaku komitmen. Jika di pacaran, setelah terkena virus merah jambu (VMJ) maka pelaku pacaran satu sama lain akan saling mengungkapkan perasan dan sehingga akhirnya saling mencurahkan perhatian, kasih sayang, saling memberi (barang, makanan, dsb), saling pandang, jalan berdua, nge-date, curhat, telpon/ sms, muncul rasa semangat karena selalu mengingat-ingat si dia dan sebagainya. Trus jika komitmen pun melakukan hal yang sama seperti hal tersebut, maka apalah bedanya dengan pacaran.
Jangan salah kaprah…mari kita lihat dari sumber hukum kita, Al Qur’an dan hadist.
Apakah di dalam Al Qur’an dan hadist menghalalkan yang demikian?
Mungkin banyak yang salah mengartikan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan: “Tidak beriman seorang dari kamu, hingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhori & Muslim). Jika tidak memahami betul tafsir hadist ini, maka setiap orang pasti akan menganggap bahwa pacaran itu jika “secara Islami” diperbolehkan. Atau ada yang asal mengungkapkan ” Aku mencintaimu karena Allah”, padahal apa yang ia kerjakan(pacaran/ komitmen) itu bertentangan dengan firman Allah. Sekali lagi, Islam tidak menghalalkan pacaran, bagaimanapun wujudnya tidak ada istilah “Pacaran Islami”. Juga tidak ada “Komitmen” pernikahan jika tidak pada “jalur”nya.
Dari Jabir bin Abdullah ra, Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyendiri ( berduaan) bersama seorang wanita tanpa ditemani mahromnya, karena yang ketiganya adalah setan” (HR Ahmad)
Mungkin ada orang tua yang belum mengerti tentang hukum batas-batas pergaulan antara pria dan wanita nonmuhrim yang sudah baligh, sehingga saat anaknya menyatakan sedang mempunyai hubungan khusus dengan si A maka dengan enak ortu menyetujui, atau mungkin dengan alasan demi keamanan maka mempersilakan keduanya untuk bisa bertemu di rumah (pacaran ditunggui orang tua). Waduh, gawat, orang tuanya saja sudah menyetujui, padahal baru dapat persetujuan dan belum dalam tahap khitbah (melamar). Orang yang sudah khitbah saja belum boleh berhubungan dekat dengan calonnya, apalagi ini yang baru katanya komitmen. Kalau masih khitbah masih ada kemungkinan untuk membatalkan walimah, apalagi yang baru sepakat mau menikah dan belum sampai tahap khitbah.
Sudahlah saudara/i ku. Apa untungnya membuat suatu hubungan yang belum halal. Sangat disayangkan apabila antum mencoba menghalalkan sesuatu yang diharamkan.
Allah SWT berfirman : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.(Q.S.Al Ahzab 33: 36)
Jika antum memang berniat untuk komitmen, maka langkah yang harus antum lakukan adalah tetap jaga hati-pikiran-pandangan, jangan berhubungan dengan lawan jenis layaknya orang berpacaran (meski diembel-embeli pernyataan “aku mencintaimu karena Allah”) dan langkah yang pasti yaknikhitbah kemudian walimah sesegera mungkin. Dan yang lebih penting lagi, coba antum pelajari kajian pranikah yang disertai hukum-hukumnya berdasarkan Al Qur’an dan Hadist.
Sekali lagi saya menulis artikel ini bukan karena merasa paling bagus amalan Islamnya, melainkan sekedar berniat menyampaikan ilmuNya meskipun hanya se-ayat. Artikel ini mudah-mudahan bisa dijadikan sebagai bahan renungan kita bersama. Amin…
Isteri-Isteri Rasulullah SAW dan Riwayat Singkat
Posted by Ae89 on
Riwayat singkat dari isteri-isteri Rasul dari sebuah buku saku berjudul “Panduan Wanita Sholihah” (editor: Abu Fathan, Asaduddin Press):
1. Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra
Khadijah adalah isteri Rasulullah saw yang pertama, dinikahi sebelum kenabian. Waktu itu Rasulullah berusia 25 tahun, Khadijah 40 tahun. Sebab karena kecerdikan dan kecerdasannya beliau disukai Rasulullah. Khadijah hidup bersama Rasulullah selama 25 tahun, yaitu 15 tahun sebelum datang wahyu kerasulan dan 10 tahun sesudahnya. Rasulullah belum menikahi wanita lain ketika Khadijah masih hidup. Khadijah meninggal dunia ketika Rasulullah berusia 50 tahun.
2. Sayyidah Saudah binti Zam’ah ra
Rasulullah menikah dengannya setelah Khadijah wafat, sedangkan ia adalah janda (bekas isteri Syukron ibnu Amru Al Anshory), lebih tua dari Rasulullah. Ia termasuk muhajirat yang ditinggal wafat suaminya ketika pulang dari hijrah ke Habasyah II. Ia tinggal seorang diri sebab jika ia kembali kepada keluarganya ia akan dipaksa untuk berbuat syirik atau disiksa. Usianya sewaktu dinikahi oleh Rasul adalah 55 tahun.
3. Sayyidah A’isyah binti Abu Bakar ra
Rasulullah menikahinya sewaktu ia masih gadis, satu-satunya isteri beliau yang perawan. A’isyah adalah wanita yang paling cerdas dan paling kuat hafalannya jika dibanding dengan isteri-isteri Rasulullah yang lain.
4. Sayyidah Hafshah binti Umar ra
Rasulullah menikah dengannya sewaktu ia dalam keadaan janda. Suaminya yang terdahulu adalah Junaisy bin Hadzabal Al Anshory yang meninggal dalam perang Badar.
5. Sayyidah Zainab binti Khuzaimah ra
Beliau menikah dengannya setelah menikah dengan Hafshah binti Umar. Zainab adalah janda dari seorang pahlawan Islam yang terkemuka, yaitu Abidah bin Harits bin Abdul Muthalib ra yang menjadi korban dalam penyerangan pertama dalam perang Badar. Rasulullah mengetahui bahwa Zainab adalah seorang yang sabar dan tetap iman dan jihadnya.
6. Sayyidah Zainab binti Jahsy ra
Ia dinikahi setelah janda dan ia adalah anak perempuan bibi beliau. Sebelunya ia telah menikah dengan Zaid bin Haritsah. Setelah bercerai, Rasulullah mempersuntingnya sebagai isteri. Hal ini terjadi karena adanya hikmah yang besar, yakni suatu hikmah penghapusan “adopsi” (pengangkatan anak). Dan diantara sebagian orang-orang orientalis yang dengki terhadap Islam dan Rasulullah menjadikan peristiwa perkawinan beliau dengan Zainab sebagai landasan untuk memfitnah beliau dan melontarkan beberapa berita bohong dikarenakan adanya beberapa cerita Israiliyat yang terdapat dalam sebagian buku tafsir.
7. Sayyidah Ummi Salmah Al Makhzumiyah (Hindun binti Abu Umayyah Al Mahzuumiyah) ra
Rasulullah menikahinya setelah janda. Suaminya yang terdahulu Abdul Asad. Abdul Asad adalah termasuk Assabiquunal Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama masuk Islam, pahlawan Islam yang syahid di perang Uhud. Setelah ditinggal mati oleh suaminya, Ummu Salmah tinggal bersama 4 orang anaknya. Di samping itu, Ummu Salmah mempunyai otak yang cerdas, ini dibuktikan ketika Rasulullah meminta pendapat tentang sesuatu yang penting bagi kaum muslimin di saat Hudaibiyyah. Ketika Rasulullah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk memotong rambutnya, dimana tidak seorang pun yang mematuhinya, maka Ummu Salmah memberikan saran kepada beliau untuk mencukur rambutnya sendiri di hadapan orang banyak.
8. Sayyidah Ummu Habibah binti Abu Sofyan ra
Rasulullah menikah dengan beliau tahun ketujuh dari hijrah. Janda dari Abdullah ibnu Jakhsy yang telah meninggal di Habasya. Maka Raja Najasyi menikahkannya dengan Rasulullah dengan mahar sebesar 4000 dirham dan dikirimkannya (Ummi Habibah) bersama Sarobil ibnu Hasanah.
9. Sayyidah Juwairiyah binti Harits ra
Rasulullah menikahi Sayyidah Juwairiyah binti Harits bin Dharar (pemuka kaum Bani Musthalliq), ia janda dari Mussafi’ bin Shofyan yang telah terbunuh dalam perang Muro’isi. Musaffi’ bin Shofyan adalah satu-satunya musuh bebuyutan bagi Rasulullah karena dialah yang paling sering memusuhi beliau.
10. Sayyidah Maimunah binti Harits Al Hilaliah ra
Nama aslinya adalah Barrah, kemudian Rasulullah menamainya Maimunah, isteri beliau yang terakhir. Sayyidah A’isyah pernah menceritakan keadaannya, bahwa dia (Maimunah) adalah orang yang paling taqwa kepada Allah dan kamipun telah memperbanyak silaturahmi dengannya. Dia adalah bekas isteri dari Abu Rahmi bin Abdul Aziyy.
11. Sayyidah Shofiyah binti Huyaiy bin Akhtab ra.
Tarbiyah itu Dimulai Dari Hal Kecil
Posted by Ae89 on
Sekedar sharing saja pada pengunjung blog ini….
Kita tidak bisa membiarkan seorang sopir pribadi yang belum tahu arah untuk terus menyetir tanpa arahan rute dari kita, sementara kita tidur enak di jok belakang (padahal kita tahu rutenya). Bisa-bisa malah tersesat di tengah jalan. Kalaupun sopir tersebut akhirnya di tengah jalan bertanya tentang rute pada orang-orang di jalan, yakinkah kita bahwa orang yang ditanyai tersebut pasti menunjukkan jalan yang benar? Atau mungkin orang tersebut malah sengaja membuat kita semakin tersesat. Nah, itu lah tugas orang terdekat untuk memberikan tarbiyah yang kiranya memberikan keleluasaan namun tetap mengarahkan. Analoginya, mungkin saja orang tua membekali anak-anaknya dengan kompas, namun tahukah mereka teknik membaca kompas jika tanpa diajari terlebih dahulu oleh orang tuanya? Perlu diketahui, salah beberapa derajat dalam membaca kompas saja bisa membuat salah arah.
Sama halnya seperti jika orang tua mengetahui ilmu tentang kewajiban berjilbab bagi putrinya yang telah dewasa. Namun, ternyata orang tua tidak menyampaikan, memberikan kebebasan kepada putrinya untuk mencari sendiri titik kesadaran akan wajibnya mengenakan jilbab bagi muslimah. Orang tua hanya menunggu datangnya hidayah bagi putrinya dan tidak memberikan pengertian akan pentingnya menutup aurat. “Padahal sudah jelas, hidayah itu tidak akan datang jika kita hanya berpangku tangan. Pencarian hidayah perlu ada usaha, hidayah itu perlu dijemput”. Oleh karena itu, sudah seharusnya orang tua, murabbi atau para pendidik menuntun, mengarahkan atau bahkan menemani perjalanan panjang mereka untuk mencari kebenaran yang hakiki.
Masa sekarang ini adalah masa-masa yang rawan akan pelanggaran nilai-nilai agama. Pergaulan bebas dipercontohkan dimana-mana, baik di TV, majalah, dan media lainnya. Pria maupun wanita berinteraksi tanpa batas. Sebagai orang tua, seharusnya tarbiyah dimulai dari hal kecil. Misalnya dengan memfilter acara TV yang seharusnya dilihat oleh anak, tidak membiarkan anaknya bepergian di malam hari, tidak memperbolehkan putrinya bepergian bersama teman-teman lelaki, melarang putra-putrinya untuk berpacaran, dsb. Namun tidak melulu tarbiyah itu dominan dengan larangan-larangan, bisa pula dengan mengajak putra-putrinya untuk berdialog hati ke hati, mengajak bersilaturahmi ke rumah sanak saudara, mengajak menghadiri acara-acara kajian agama, mewajibkan membaca Al-Qur’an dan terjemahannya setiap hari, menyampaikan pesan bermakna dalam setiap peristiwa, menganjurkan anak untuk mengenakan pakaian yang sesuai syariat, dsb.
Yang paling penting adalah bagaiamana cara membina keterbukaan dan kedekatan hubungan antara orang tua dengan putra-putrinya. Orang tua sebaiknya membuat suasana kekeluargaan yang kondusif untuk tarbiyah, supaya anak merasa bahwa orang tuanya lah orang yang paling utama sebagai tempat curhat dan berkeluh kesah, dan bahkan supaya anak merasa tidak perlu punya “pacar” karena sudah mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tuanya. Tidak bersikap kasar apabila anak melakukan kesalahan, namun tidak pula membiarkan begitu saja tanpa mengingatkan.
Mohon maaf apabila banyak kesalahan dalam artikel ini, semata hanya sedikit berbagi atas apa yang saya rasakan selama ini, yakni menjadi seorang anak yang beruntung karena mendapatkan cinta dan tarbiyah dari ayah dan bunda….
Tips : Waktu Terbaik Untuk Beraktifitas
Posted by Ae89 on
Salah seorang salaf pernah memberikan pengalamannya kepada kita tentang waktu-waktu yang terbaik untuk beraktivitas. Dia berkata, “Waktu terbaik untuk :
- Menghafal adalah waktu sahur (akhir malam).
- Mencari rizki adalah pagi hari.
- Menulis adalah tengah hari.
- Belajar adalah malam hari.”
Semoga tips ini bermanfaat bagi kita dan bisa dipraktikkan untuk dibuktikan sendiri faedahnya. Semoga kita menjadi salah satu dari banyak orang yang beruntung karena mampu memanfaatkan waktu yang telah diberikanNya. Amin…
Supaya Hati Kian Mantap Untuk Berjilbab
Posted by Ae89 on
Kamis, 11 Februari 2010
Jilbab adalah identitas seorang muslimah. Jilbab merupakan pembeda antara wanita muslim dengan yang kafir. Namun pada kondisi saat ini ternyata ada banyak hal yang perlu menjadi PR bagi kita bersama sebagai muslim. Tidak bisa dipungkiri, seiring dengan berkembangnya peradaban dan pola pikir manusia, hakikat jilbab ternyata juga ikut mengalami pergeseran-pergeseran, entah ke arah positif maupun negatif.
Kenapa harus berjilbab ?
Pada dasarnya, hukum berjilbab bagi seorang wanita muslim adalah wajib seperti layaknya wajibnya sholat lima waktu, perintah berjilbab pun ada dalilnya di dalam Al Qur'an, merupakan perintah yang datangnya langsung dari Allah SWT. Sebagaimana firman Allah di dalam QS. Al Ahzab: 59 yang artinya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dan ternyata perintah berjilbab tidak hanya ditegaskan sekali saja, namun masih ada ayat lain yang juga memperkuat hukum berjilbab :
“Dan katakanlah kepada para wanita yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya….” ( QS. An-Nur: 31)
Nah, jangan keliru dan salah menafsirkan ayat-ayat ini. Bukan berarti bahwa hanya istri dan putri Nabi saja yang diwajibkan berjilbab. Kitapun sebagai muslimah diwajibkan berjilbab. Lalu apa saja sih yang selama ini menjadi kendala untuk berjilbab? Apa saja yang menjadi faktor keragu-raguan untuk berjilbab ? Ini dia beberapa kendala yang mungkin dialami oleh sepersekian saudari kita :
1. Tidak diperbolehkan oleh orang tua.
Nah, yang ini adalah kasus umum yang sering terjadi. Kemungkinan adalah karena masih kurangnya pemahaman orang tua tentang Islam. Maka perlu ada pendekatan personal, tapi jangan frontal.
2. Belum mengetahui adanya perintah berjilbab.
Mungkin karena kurangnya pengetahuan bahwa sebenarnya jilbab itu wajib bagi seluruh wanita muslim. Mungkin saja karena ia jarang mengikuti kajian Islam, belum mempelajari Al Qur’an hingga ke terjemahannya, atau mungkin karena ia tinggal di daerah konservatif, terpencil ataupun di “kawasan hitam” perkotaan. Mungkin ada satu lagi golongan yang mengetahui ilmunya, mempunyai pemahaman yang baik terhadap Islam, namun salah menafsirkan sehingga manganggap bahwa jilbab tidak wajib karena disesuaikan dengan konsep perkembangan peradaban manusia.
3. Tuntutan profesi.
Mungkin bidang kerjanya sebagai model, pramugari, polwan, dsb. Posisi ini adalah posisi yang memang serba sulit.
4. Pandangan yang terlalu sempit.
Mungkin saja karena mengatasnamakan nasionalisme atau apalah namanya, akhirnya menganggap bahwa jilbab itu merusak toleransi antar umat beragama (SARA). Padahal kalau di Indonesia sendiri, Bhinneka Tunggal Ika diartikan sebagai pemersatu bangsa sekaligus sebagai wujud penghargaan terhadap perbedaan. Jadi seharusnya jika kita masih menjunjung tinggi semboyan kita itu, maka berilah kebebasan kepada para muslimah untuk berjilbab.
5. Pengambilan sample yang salah terhadap muslimah yang berjilbab.
Hal ini misalnya dengan menganalogikan hal yang satu dengan yang lainnya. Ada orang yang berjilbab namun tingkah lakunya masih kurang sesuai dengan syari’at. Lantas hanya dengan satu sample itu maka dijadikan suatu stereotype terhadap seluruh perempuan berjilbab. Akhirnya mengambil kesimpulan dari satu pengalaman saja tanpa melihat pada banyak hal yang lain. Akhirnya muncul pendapat bahwa lebih baik tidak berjilbab namun kelakuan baik daripada berjilbab tapi kelakuannya kurang baik. Nah, ini dia salahnya. Seharusnya kita tahu bahwa manusia diciptakan berbeda satu sama lain. Kenapa tidak kita ciptakan saja pendapat “yang terbaik adalah berjilbab dan kelakuannya baik” pada diri kita?
6. Anggapan bahwa jilbab membatasi aktivitas.
Ehmm..kata siapa berjilbab itu ribet dan membatasi aktivitas. Itu pasti karena belum terbiasa saja. Kalau sudah terbiasa pasti enjoy aja. Nyatanya sekarang ini justru banyak jilbaber-jilbaber yang menjadi “orang penting” di dalam organisasinya. Mereka tetap bebas bergerak, masih tetap bisa berolahraga.
“Maa anzalna alaykal qur’aana li tasqaa” (Sungguh Kami turunkan Al-Qur’an tidak untuk menyusahkanmu).
Allah menciptakan hukum Islam bukan untuk menyulitkan hambaNya melainkan untuk melindungi hambaNya. Jilbab ibarat perisai bagi muslimah, menutup aurat supaya terjaga dari pandangan pria yang bukan muhrimnya.
7. Faktor pribadi
Merasa lebih cantik jika tanpa jilbab? Ah, itu salah besar. Justru jika berjilbab, kulit kita akan terlindungi debu dan panas terik matahari. Ya, ngga?!.
Merasa rugi jika selagi masih muda tidak bisa berpenampilan secara bebas mengikuti trend dan mode? Waduh, dasar cewek. Emangnya zaman sekarang ga ada model jilbab yang modis ya? Ada tuh…Sudah banyak kok model-modelnya, mulai dari warna, corak dan bentuk. Tapi, disini harus tau lah membedakan antara yang jilbab syar’i (sesuai dengan syariat Islam) dengan yang hanya asal pakai saja. Jangan jadi orang yang asal pakai jilbab saja. Memakai jilbab harus sesuai dengan ketentuan hukum Islam yakni menutup dada dan tidak transparan. Hal ini juga harus diikuti dengan pemakaian busana yang longgar, tidak memperlihatkan aurat dan lekuk tubuh. Jangan mau menjadi korban mode tanpa jilbab, yang mempertontonkan aurat kepada siapa saja secara gratis!
Takut dibilang seperti ibu-ibu? Nggak juga tuh…! Cuek bebek aja lagi. Justru banyak pria sholeh dan dari kalangan baik-baik yang bakal demen, yakin deh…^-^. Ups, tapi inget ya, bukan itu tujuan berjilbab. (Di dalam Islam diajarkan untuk menjaga hati dan pandangan loh..).
”Katakanlah kepada orang-orang mukmin untuk menjaga pandangan mata mereka…”(QS. An-Nur : 30)
Takut susah mendapatkan jodoh/ pekerjaan? Tunggu dulu nih…Salah jika berpendapat seperti itu. Jodoh dan rizki adalah ketentuan Allah, jadi manusia hanya mengusahakan saja. Harus tetap optimis. Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa wanita yang baik-baik adalah untuk pria yang baik pula. Nah, perempuan sholihah berjilbab pasti bakal dipertemukan dengan pria yang baik dan sholih pula. Cinta yang tumbuh adalah cinta karena Allah. Sedangkan pria yang menyukai wanita tidak berjilbab, ada kemungkinan bahwa cintanya bukan karena Allah tapi karena hawa nafsu. Kalau pekerjaan, carilah pekerjaan yang baik dimana hak kita sebagai muslim pun tetap dihargai.
Merasa belum pantas berjilbab karena merasa belum pandai ilmu Islam? Bukan jadi masalah. Semua butuh proses, tapi yang paling penting adalah tunaikanlah dulu kewajiban berjilbab. Setelah mampu berjilbab secara fisik, maka sedikit demi sedikit kita bisa membuat jilbab untuk hati. Semuanya itu secara bertahap, tidak bisa seketika. Seperti halnya proses penciptaan manusia dan alam semesta, proses perbaikan diri pun bertahap tidak seketika jadi.
Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,…(QS. Huud :7)
8. Fitnah terhadap Islam yang selama ini tersebar.
Mungkin jika di tanah air pada tahun-tahun sebelumnya pernah tersebar isu jilbab “ninja”, maka yang sekarang muncul adalah isu terorisme yang mana Islam dikambinghitamkan, bahkan perempuan bercadar ikut dicurigai. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah saat orang-orang yang mengaku beragama Islam juga ikut memojokkan Islam dengan mencurigai wanita berjilbab lebar, pria berjenggot maupun madrasah-madrasah. Hal inilah salah satu yang menjadi kekhawatiran masyarakat tentang pemakaian jilbab, dalam artian takut terlibat menjadi orang yang dicurigai dengan hal-hal yang seperti itu, sehingga takut untuk mengenakan jilbab.
Dan masih banyak lagi faktor-faktor lain yang mungkin tidak tersebutkan disini yang mungkin anti sekalian alami di saat sekarang ini.
Nah, bagi anti sekalian yang sudah mempunyai niat berjilbab, ada beberapa tips yang mungkin bisa dicoba sejak sekarang supaya hati kian mantap untuk berjilbab :
1. Bulatkan niat untuk berjilbab.
Innamal a’malu binniyat. Tetapkan hati, mulai dari hal-hal yang kecil, misalnya mengenakan pakaian yang ada dalam batas kesopanan. Lalu, saat niat memakai jilbab muncul, bersegeralah memakainya, jangan menunggu terlalu lama hingga akhirnya keraguan itu muncul kembali. Buatlah komitmen pribadi, sekali memakai jilbab jangan bongkar pasang lagi. Ingat perintah Allah, jangan mencari-cari lagi dalil lain yang ternyata salah penafsiran. Luruskan niat berjilbab adalah karena Allah, bukan karena hal lain. Bukan karena ingin mendapatkan pujian dari orang lain atau pun bukan karena menyukai pria yang suka pada muslimah berjilbab. Jangan sampai niat kita salah dan menjadi sia-sia karena tidak terhitung mendapatkan pahala.
“Barang siapa yang melakukan sesuatu amal yang bukan perintah kami(Allah dan RasulNya), maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)
Bagi yang masih terhalang karena belum diijinkan oleh orang tua, coba lakukan pendekatan personal, berikan pemahaman sedikit demi sedikit. Saya yakin antum yang lebih mengetahui karakter orangtua antum.
2. Sering-sering mempelajari Al Qur’an beserta maknanya, juga membaca buku-buku Islam.
3. Lebih sering datang ke majelis ilmu.
Datang pada acara kajian Islam sedikit demi sedikit akan menyadarkan kita akan pentingnya “nutrisi” untuk ruh kita. Apa yang kita dengarkan jangan begitu saja dilupakan, namun untuk diingat dan diamalkan. Jadilah golongan yang “sami’na wa atha’naa” (kami mendengar dan kami laksanakan), jangan seperti kaum kafirun yang “sami’na wa ashaynaa” (kami mendengar dan kami bantah).
4. Bergaul dengan orang yang mempunyai pemahaman agama yang lebih baik.
Rasulullah bersabda : “Seseorang itu terletak pada agama teman dekatnya, sehingga masing-masing kamu sebaiknya melihat kepada siapa dia mengambil teman dekatnya” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, al-Hakim, al-Baghawi).
Harus banyak bergaul dengan teman-teman yang sholihah.
5. Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu.
6. Tetap berprestasi dengan jilbab yang syar’i.
Jadilah muslimah yang berprestasi. Tunjukkan pada orang tua kita, sahabat kita, orang yang ada di sekitar kita bahwa jilbab bukan menjadi penghalang bagi aktivitas dan prestasi kita. Dan satu lagi, jangan lupa refresh kembali arti jilbab syar’i…
Syukur-syukur kalau kita sudah berjilbab, bisa mengajak saudari-saudari kita yang lain…^-^
Eits, satu lagi, setelah berjilbab, jaga jarak, jaga hati dan jaga pandangan pada lawan jenis. Jangan terlena jika ada yang bersimpati…(hmmm…maklum sih, soalnya anti jadi terlihat tambah anggun, teduh, intelek dan sholihah…^^)
Semoga artikel sederhana ini bisa bermanfaat bagi saya maupun para pengunjung blog ini (amiin..). Dan saya ucapkan selamat berhijrah menunaikan perintah Allah bagi yang belum sempat menunaikan perintah berjilbab..^-^
Ma’annajah…
(Yang menulis belum tentu lebih baik dari antum..)

